Perbedaan pil KB Cyclogynon dan Microgynon, bagus mana

Perbedaan pil KB Cyclogynon dan Microgynon. Mulai dari kandungan dan dosis hormon, produsen, aturan pakai, durasi siklus dan efek samping

Bagus pil KB Cyclogynon atau Microgynon

Kita akan bahas beberapa perbedaan pil KB Cyclogynon dan Microgynon secara mendalam.

Memahami perbedaan ini krusial agar kita dapat memilih opsi yang paling sesuai dengan kebutuhan dan kondisi tubuh masing-masing.

Keduanya merupakan pilihan populer dalam metode kontrasepsi hormonal oral, namun memiliki karakteristik unik yang membedakan satu sama lain.

Keduanya memanfaatkan kombinasi hormon estrogen dan progestin untuk mencapai efektivitasnya.

Hormon-hormon ini bekerja dengan cara menghambat ovulasi (pelepasan sel telur dari ovarium), mengubah lendir serviks sehingga menyulitkan sperma masuk, serta mengubah lapisan rahim agar tidak siap menerima pembuahan.

Cyclogynon dan Microgynon adalah jenis alat kontrasepsi hormonal yang bekerja dengan menstabilkan kadar hormon dalam tubuh untuk mencegah kehamilan.

Penggunaan pil KB ini memerlukan kedisiplinan tinggi dalam mengonsumsinya setiap hari pada waktu yang sama untuk memastikan efektivitas maksimal.

Penting untuk diingat bahwa pil KB ini adalah obat resep, sehingga penggunaannya wajib di bawah pengawasan dokter.

Beda pil KB Cyclogynon vs Microgynon

1. Kandungan dan Dosis Hormon

Perbedaan mendasar antara Cyclogynon dan Microgynon terletak pada jenis dan dosis hormon aktif yang terkandung di dalamnya.

— Cyclogynon mengandung kombinasi Levonorgestrel 150 mcg dan Ethinyl Estradiol 30 mcg. Levonorgestrel termasuk dalam golongan progestin generasi kedua, sementara Ethinyl Estradiol adalah bentuk sintetis dari estrogen.

— Microgynon juga mengandung Levonorgestrel 150 mcg dan Ethinyl Estradiol 30 mcg dalam tablet aktifnya. Namun, Microgynon memiliki struktur siklus yang berbeda.

Microgynon terdiri dari 21 tablet aktif yang mengandung Levonorgestrel 0.15 mg (setara dengan 150 mcg) dan Ethinylestradiol 0.03 mg (setara dengan 30 mcg), diikuti oleh 7 tablet plasebo.

Dalam hal kandungan hormon aktif per tablet, Cyclogynon dan Microgynon memiliki dosis yang sama untuk Levonorgestrel dan Ethinyl Estradiol.

Dosis 30 mcg Ethinyl Estradiol termasuk dalam kategori pil KB kombinasi dosis rendah hingga sedang, yang umumnya ditoleransi dengan baik oleh banyak wanita.

Perbedaan utama mungkin terletak pada formulasi atau bahan tambahan lain yang digunakan oleh masing-masing produsen, yang terkadang dapat memengaruhi cara tubuh merespons obat.

2. Produsen

Asal usul produsen dan perbedaan harga seringkali menjadi faktor pertimbangan penting bagi konsumen.

— Cyclogynon diproduksi oleh PT Tunggal Idaman Abdi. Harga Cyclogynon berkisar antara Rp3.600 hingga Rp13.800 per strip.

Rentang harga ini menunjukkan adanya variasi, kemungkinan tergantung pada apotek atau penyedia layanan kesehatan tempat pembelian.

— Microgynon diproduksi oleh Bayer Indonesia, sebuah perusahaan farmasi multinasional yang dikenal luas. Harga Microgynon per strip cenderung lebih tinggi, yaitu sekitar Rp28.100 per strip.

Perbedaan harga ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk biaya produksi, penelitian dan pengembangan, serta positioning merek di pasar.

Cek postingan: Perbedaan pil KB YAZ vs Yasmin

3. Aturan Pakai dan Durasi Siklus

Cara penggunaan sehari-hari dan bagaimana siklus kontrasepsi diatur merupakan aspek penting dalam kepatuhan pengguna.

— Cyclogynon memiliki aturan pakai 1 tablet setiap hari, dimulai pada hari pertama menstruasi, selama 21 hari berturut-turut. Setelah itu, dilanjutkan dengan 7 hari tablet plasebo.

Siklus ini dirancang untuk meniru pola hormonal alami tubuh dan memastikan perlindungan kontrasepsi yang berkelanjutan.

— Microgynon juga mengharuskan konsumsi 1 tablet setiap hari pada waktu yang sama. Perbedaan signifikan terletak pada durasi siklusnya.

Microgynon terdiri dari 21 tablet aktif yang dikonsumsi setiap hari tanpa jeda, diikuti oleh 7 tablet plasebo.

Pengguna memulai paket baru segera setelah paket sebelumnya habis, yang berarti tidak ada hari tanpa pil. Hal ini dirancang untuk menjaga kadar hormon tetap stabil dan meminimalkan risiko lupa minum pil.

4. Efek Samping dan Kontraindikasi

Setiap obat memiliki potensi efek samping dan kondisi di mana obat tersebut tidak boleh digunakan. Memahami ini sangat vital untuk keamanan pengguna.

Efek Samping yang Mungkin Timbul:

— Cyclogynon: Efek samping yang dapat terjadi meliputi perubahan pada kulit seperti chloasma (bercak gelap akibat paparan sinar matahari), penurunan toleransi lensa kontak, gangguan tromboemboli (pembekuan darah), peningkatan tekanan darah, gangguan pada kantung empedu, penyakit hati, mual, muntah, kram perut, flek atau perdarahan di luar siklus menstruasi, perubahan siklus menstruasi, amenore (tidak menstruasi), perubahan pada payudara, penyakit kuning (jaundice), migrain, ruam kulit, depresi mental dan infeksi jamur pada vagina (kandidiasis).

Laporan lain juga menyebutkan kelainan bawaan, sindrom pramenstruasi, katarak, neuritis optik, perubahan nafsu makan, sakit kepala, gugup, pusing, hirsutisme (pertumbuhan rambut berlebih), kerontokan rambut, eritema multiforme, eritema nodosum, perdarahan, vaginitis, porfiria, gangguan fungsi ginjal, jerawat, perubahan libido, kolitis, kejadian serebrovaskular, sindrom mirip lupus, sindrom Budd-Chiari dan gejala mirip sistitis.

— Microgynon: Efek samping yang lebih umum dilaporkan adalah mual, sakit kepala, nyeri payudara, perubahan suasana hati dan perubahan berat badan. Risiko serius yang jarang terjadi termasuk pembekuan darah di pembuluh darah vena.

Kontraindikasi (Kondisi di mana obat tidak boleh digunakan):

— Cyclogynon: Kontraindikasi meliputi riwayat atau kondisi tromboflebitis (radang pembuluh vena disertai bekuan darah), penyakit arteri atau koroner tromboemboli, dugaan atau kanker payudara yang diketahui, kanker endometrium atau dugaan neoplasia yang bergantung pada estrogen, perdarahan genital abnormal yang tidak dapat dijelaskan, penyakit kuning (jaundice) selama kehamilan atau akibat penggunaan kontrasepsi sebelumnya, penyakit hati berat atau kanker hati, dugaan atau kehamilan yang diketahui, anemia sel sabit, diabetes melitus berat dengan gangguan vaskular, gangguan metabolisme lipid, riwayat herpes gestationis, atau otosklerosis yang memburuk selama kehamilan.

— Microgynon: Kontraindikasi meliputi hipersensitivitas (alergi), riwayat atau adanya gumpalan darah, kanker payudara, perdarahan vagina yang belum terdiagnosis, atau penyakit hati berat.

Perlu dicatat bahwa Levonorgestrel dan Ethinyl Estradiol, sebagai komponen aktif yang sama dalam dosis tersebut, dapat menimbulkan profil efek samping dan kontraindikasi yang serupa.

Namun, perbedaan formulasi atau bahan tambahan dari masing-masing produsen dapat memengaruhi tolerabilitas individu.

5. Tingkat Keamanan

Aspek keamanan dan bagaimana obat ini dikategorikan dalam sistem kesehatan juga penting untuk dipahami.

— Cyclogynon dikategorikan sebagai Obat Resep (obat merah), yang berarti penggunaannya memerlukan resep dari dokter. Obat ini tersedia secara bebas dengan batasan maksimal 1 strip; resep dokter diperlukan untuk pembelian lebih dari itu.

— Microgynon juga dikategorikan sebagai Obat Resep (obat merah). Informasi yang diberikan menyatakan bahwa obat ini hanya untuk tenaga medis, namun juga tersedia secara bebas dengan batasan maksimal 1 strip dan resep dokter diperlukan untuk pembelian lebih.

Kategori hanya untuk tenaga medis mungkin merujuk pada panduan penggunaan yang lebih mendalam bagi para profesional kesehatan dalam meresepkan obat ini.

Secara umum, kedua pil KB kombinasi ini dianggap aman untuk sebagian besar wanita sehat ketika digunakan sesuai petunjuk dan di bawah pengawasan medis.

Namun, risiko efek samping serius, meskipun jarang, tetap ada.

Wanita dengan faktor risiko tertentu seperti riwayat penyakit vaskular, diabetes, obesitas, merokok, atau depresi harus menjalani evaluasi medis yang cermat sebelum menggunakan kontrasepsi hormonal kombinasi.

Pemantauan rutin oleh dokter sangat penting untuk memastikan keamanan dan efektivitas penggunaan jangka panjang.

Kesimpulan

Baik Cyclogynon maupun Microgynon menawarkan perlindungan kehamilan yang efektif melalui mekanisme kontrasepsi hormonal oral yang sama.

Keduanya mengandung Levonorgestrel 150 mcg dan Ethinyl Estradiol 30 mcg.

Perbedaan utama terletak pada produsen, harga dan sedikit nuansa dalam aturan pakai serta kategori informasi yang diberikan.

Cyclogynon diproduksi oleh PT Tunggal Idaman Abdi dengan harga yang lebih terjangkau, sementara Microgynon diproduksi oleh Bayer Indonesia dengan harga yang lebih tinggi.

Aturan pakai keduanya serupa dalam hal konsumsi harian, namun Microgynon menekankan tidak adanya jeda antar paket.

Dalam hal efek samping dan kontraindikasi, keduanya memiliki profil yang mirip karena kandungan hormon aktif yang sama, meskipun perbedaan formulasi dapat memengaruhi toleransi individu.